Bicara tentang energi dan ketercukupannya adalah membicarakan kemana gaji bulanan Anda dan saya dibelanjakan. Setiap bulan sudahlah pasti sekian rupiah tersedot demi memenuhi kebutuhan kita akan listrik, gas, dan bahan bakar minyak. itu minimal. Anda yang terbilang kaya raya dengan segala keberlimpahan harta tentu tak harus membaca tulisan ini hingga pada kalimat terakhir, sungguh Anda tak punya masalah sama sekali. Namun jika nasib Anda tak jauh beda dengan nasib saya, maka kita sama-sama punya kepedulian akan penghematan sumber daya dompet sendiri. Harapan kita, dengan pemasukan ala kadarnya, mampu menerapkan prinsip dasar penghematan.
Bicara penghematan, jika Anda jeli dan mau merenungkan, pada hakikatnya kita bisa menghemat biaya pengeluaran bulanan dengan merubah pola kebiasaan kita dalam memeroleh sumber energi. Dahulu, jika tak boleh menyebutkan era presiden siapa, mungkin harga komoditas energi dan sembako boleh dibilang manusiawi, tak seperti era Jokowi dan beberapa presiden sebelumnya yang bangga dengan segala kebijakan ekonomi yang sungguh tidak bijaksana. Tapi lupakan saja mengkritik pemerintah, mereka kebal kritikan. Daripada kita bete sendiri, mendingan mulai sekarang kita memikirkan bagaimana caranya kita menemukan sumber energi alternatif yang akhirnya meramahkan kondisi lingkungan wabil khusus kondisi kantong kita sendiri.
Sahabat, kita yang mungkin terlalu tenggelam dalam rutinitas dan pekerjaan, mungkin masih hijau ketika mendengar istilah energi terbarukan. Di sini saya bukan orang yang kompeten menjelaskan detil seperti apa maksud istilah itu. Di sini saya lebih kepada mengajak Anda sekalian untuk sama-sama mulai memikirkan dan akhirnya menjadi pengguna akhir energi terbarukan.
Sederhananya, energi terbarukan adalah energi yang diperoleh dari alam setelah mengalami proses konversi. Karena langsung mengakses alam, bukannya veti vera :D, maka harga yang harus kita keluarkan cenderung murah. Misal untuk kebutuhan listrik, saya sekarang mulai memikirkan bagaimana memaksimalkan alam menjadi sumber generator listrik. Ada banyak cara untuk itu. Anda yang punya akses kepada sungai dengan level debit air yang menjanjikan, bisa mulai membuat turbin dengan memanfaatkan aliran sungai. Anda yang tinggal di daerah dengan intensitas angin tinggi, bisa memanfaatkan prinsip PLTA(Pembangkit Listrik Tenaga Angin). Anda yang punya investasi cukup, tentu lebih baik membeli panel-panel surya dan segera mengakses energi matahari.
Nah, masalah timbul bagi saya yang tak punya akses kepada itu semua. Apa yang kemudian bisa saya lakukan untuk energi listrik yang boleh dibilang gratis? Oh ternyata saya bisa memanfaatkan prinsip gerakan perpetual untuk menggerakan turbin. Gerakan perpetual sendiri adalah gerakan siklik atau berputar dengan memanfaatkan beragam prinsip fisika dasar seperti gaya tarik bumi, efek bouyan, hukum archimedes, hukum newton, dan lainnya. Nah, setelah kita memahami prinsip gerakan perpetual, tantangannya tepat di belakang itu, kita harus merancang semacam alat yang mampu berputar dengan prinsip gerakan perpetual. Sekali kita menemukan alat itu, kita bisa menghubungkannya dengan generator dan terwujudlah energi listrik gratis untuk selamanya.






