Powered by Blogger.
RSS

Orang Pinggiran, Mungkin Seperti Ini Rasanya

       Bismillaah...

     Dhuha ini, Sabtu 19 April 2015, demi mencari tanah sebagai media tanam, aku berminat untuk mencari yang alam beri bukan yang veti beri, tidak seperti beberapa waktu silam (baca: tahun) ketika aku sudah puas mendapatkan tanah belian dari penjual bunga pinggir jalan. Jika kemudian aku berminat mencari yang boleh dibilang gratisan, itu karena aku membutuhkan jauh lebih banyak. tidak sekarung-dua karung, tapi berkarung-karung. Anda boleh hitung sendiri biaya yang harus aku keluarkan demi membeli tanah karungan jika satu karung setahun silam masih boleh aku beli seharga Rp 5.000, sedangkan aku sepertinya membutuhkan tidak kurang sepuluh karung tanah. Jadi hari ini aku mulai menancapkan bendera perburuan tanah. Dimana?

     Tentu saja di bumi Allah. Dengan membaca basmallah, doa keluar rumah, dan doa naik si mogu(motor gue a.k.a motor istri lebih jujurnya), aku meninggalkan kontrakan dan mulai menyusuri sepanjang jalan by-pass Rancaekek(aku tak yakin dengan nama jalan ini, semoga benar). Sambil antisipasi barangkali ada polisi pencari mangsa, mataku tajam menusuk pinggiran jalan beton yang barangkali ada gundukan tanah tak bertuan. Aku terus menekan gas hingga lewat Paramount, terus mengegas hingga sampai di daerah Manglimping(kali ini aku yakin dengan info lokasi ini, soalnya tahun kemarin aku ngontrak di rumah Pak Toto yang secara GPS ya berlokasi di daerah itu).

     Nihil, tak ada gundukan tanah yang kumaksud, ada juga gundukan pasir yang aku suka jika ada lelaki bertelanjang dada memindahkan satu skop demi satu skop pasir ke truk pembeli. It's so a man! (duh OOT) .

     Aku berbalik arah dan terus menyusuri jalan by-pass. Perburuan berlanjut. Tak yakin berapa jarak dari titik perputaran tadi, aku menemukan gundukan yang kucari. Hemmm... tanah merah, sempurna!, aku pikir. Walau tak yakin tanah itu bertuan, aku tetap harus memastikan tanah incaranku bukanlah barang shubhat, baiknya aku tanyakan kepada warung kopi pinggir jalan, tentu saja kepada pemilik warungnya aku bertanya, bukan kepada rentengan kopi instan beragam merek. Jika Anda bertanya mengapa sasaran pertanyaanku kepada pemilik warung kopi, itu karena letak warung tersebut terdekat dengan tanah incaran. Aku minggir. Aku matikan mesin motor. Berjalan beberapa langkah saja aku sudah berada persis di depa warung itu. Sayang, pemiliknya lagi buang hajat besar, mungkin, soalnya aku tunggu beberapa menit, rupanya tak aku kunjung jumpa.

     Karena tak kunjung datang, aku putuskan untuk meninggalkan warung kopi dan godaan gundukan tanah merah tadi. Aku lanjutkan perburuan. Sampai di depan gapura kontrakan dan aku tak juga menemukan tanah yang kumaksud, aku putuskan untuk mengambil rencana B yang memang sudah aku persiapkan jika rencana A, yaitu mencari tanah pinggir jalan, ternyata gagal. Anda mau tahu rencana B-ku? 

    Mengeruk tanah endapan sungai, dimana sungainya mengalir di samping gapura kontrakan. Itu rencana B-ku. Untuk rencana ini aku membutuhkan bantuan tangga tetangga untuk turun ke sana. Akhirnya aku meminjam tangga itu. Ah dilalah-nya, waktu aku cemplungkan anak tangga terbawah hingga mencicipi dinginnya air sungai, mataku mendapatkan pemandangan sebuah gundukan tanah yang tersamarkan rerumputan. Dengan menggunakan sekop tangan, aku coba korek-korek permukaan gundukan. Aku sibakkan rerumputan demi cari tahu gundukan tanah dari jenis apa. Rupanya itu tanah merah yang cederung berpasir. Mungkin kata berpasir tak cukup mewakili jenis tanah ini, tapi paling tidak sifat mupur-nya itu yang mengingatkanku pada tekstur pasir pada umumnya. Alhamdulillaah, aku temukan media tanam ini tanpa aku harus turun berbasah-basah ke sungai. Di bawah ini lokasi gundukan tanah yang aku maksudkan:




        Sedangkan pahitnya aku harus turun ke sungai, di sinilah lokasi tanah yang aku maksudkan:


     Bisa Anda saksikan sendiri betapa sungai yang entah apa namanya ini telahlah mengalami sedimentasi sedemikian parahnya. Sungai ini belum mendapatkan hak perhatian dari Kang Emil dimana setelah perhatian itu datang, tentu tak akan ada lagi sedimen itu. Tapi biarlah, tak perlu Anda laporkan fakta ini kepada walikota itu. Insya Allah lain waktu aku sendiri yang akan mengeruknya dengan gembira.

    Akhirnya, hari ini aku mendapatkan empat karung tanah media tanam, dimana satu karung ngahiwal gedena, jadi boleh dibilang lima karunglah.


      Dan di balik semua pengalaman pertama memburu tanah gratisan, aku merasa apa yang aku lakukan itu serupa dengan apa yang dirasakan oleh para pemeran "Orang Pinggiran" atau "Andai Aku Menjadi" di setiap episodenya. Aku merasa, ketika kekuatan uang di dompet tak seberapa, maka bolehlah memburu sesuatu di luar sana, apa pun itu yang dalam pandangan orang tak berharga, untuk diolah demi menaikkan nilainya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS