Anda penikmat bahasa Sunda? Atau paling tidak sempat lama tinggal di tatar Sunda? Mengerti sebagian kosakatanya? Atau bahkan tidak semuanya? Jika demikian, maka memang harus saya terjemahkan dahulu judul tulisan ini.
Seeur Kahayang artinya Banyak Keinginan. Dan itulah salah satu sifat dasar manusia. Tamak, sifat loba telah menjadi bagian tak terpisahkan pada diri seseorang. Tamak akan harta, seakan harta-benda akan menjadi penjamin kebahagiaan seseorang. Apa pun dilakukan demi menghimpun harta tanpa batas.
Maka apakah ide saya tentang Kebun Alamanda ini juga masuk ke dalam definisi tamak ini?, mengingat bahkan saya belum diamanahi mengelola memiliki kebun tersebut dari Sang Pemilik bumi. Hingga saat ini Kebun Alamanda barulah masuk dalam tataran gagasan, belum dapat terealisasi. Maka sekali lagi apakah pikiran saya tentang kebun depan rumah yang Insya Allah bisa menyumbang kebaikan akan hasil sayur dan turunannya, termasuk ke dalam sikap tamak?
Semoga tidak. Saya sangat berharap demikian. Sudah sepatutnya kita bersikap hati-hati atas segala tindak-tanduk kita. Berbuat dan mengusahakan ini-itu harus pula dipikirkan akibatnya. Harapan saya semoga hasil dari Kebun Alamanda nantinya bisa memenuhi kebutuhan keluarga akan pangan. Dan tentu tidak ada yang gratis di dunia ini. Jika Anda beriman kepada Allah dan hari akhir, dalam artian Anda seorang muslim, maka setiap kenikmatan yang sempat kita nikmati akanlah dimintai pertanggung-jawaban, tsumma latus-alunna yaumaidzin 'anin-naiim [kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)](QS: Attakatsur ayat terakhir).
Jadi, jika semua berjalan sesuai rencana, jika ide Kebun Alamanda itu menjadi realita, sudah sepantasnya saya bersyukur kepada Allah, bersyukur dalam makna sesungguhnya kesyukuran dan dalam jangkauannya yang lebih luas, yaitu bukan sekedar mengucap lafadz hamdalah, namun jadilah hambaNya yang bertakwa, itu arti syukur sesungguhnya.






